CINTA MASA LALU (3)
Pada episode lalu, Shita dan Bagas kembali bertemu di sebuah Rumah makan.
Mendengar pertanyaan Bagas, Shita hanya terdiam. termenung. Entah apa yang dipikirkan Shita. Rasanya sangat berat bagi Shita untuk menjawab pertanyaan Bagas.
" Hei... " bagas menggerrak-gerakkan tangannya di depan mata Shita.
" Bagaas... " Teriak Shita dengan berpura-pura marah, karena sikap Bagas.
Bagas hanya cengar-cengir....
" Kamu bahagia dengan pernikahan kamu?" Ulang Bagas kali ini dengan kesungguhan dimatanya.
" Entahlah.... aku hanya menjalani. Emang ukuran bahagia menurut kamu seperti apa sih?"
"hmm... Bahagia itu kalau menurut aku, tidak pernah menyesali atas keputusan kita."
mendengar jawaban Bagas, Shita hanya menunduk.
"Shita..., maaf.."
Shita masih tertunduk diam.
Sesaat kemudian, " It's okay kok Gas. I'm Fine... bahagia menurut kamu mungkin gak berlaku kalo buat aku."
kali ini Bagas , memandang air muka Shita. Berusaha menyelami apa yang dirasakan perempuan yang pernah singgah di hatinya beberapa tahun yang lalu.
Perempuan yang pernah membuatnya tertawa. perempuan yang mengenalkan tentang arti hidup. perempuan yang membuatnya bisa membuat keputusan berani.
Dimata Bagas, Sosok Shita adalah perempuan tangguh, perempuan kuat, perempuan yang tak pernah mengeluh.
Dan kini..., sepertinya sosok itu mulai pudar bahkan menghilang. Entah apa yang telah terjadi kepadanya. Bagas hanya mencoba mengembalikan Shita yang dulu. Namun belum dia temukan sejak awal mereka bertemu.
hening....
Bagas mempermainkan ponselnya, menatap arlojinya.
" Bagas...." Bagas menatap Shita
" Aku sekarang udah berubah...." Bagas terdiam fokus mendengarkan cerita Shita
" Aku sampai sekarang masih mencari arti bahagia itu...." Shita mengambil nafas panjang dan dalam, pertanda kalimat yang dia keluarkan merupakan sebuah pengakuan dosa yang amat berat.
" Tiga tahun terakhir ini, aku berusaha menemukan kunci yang bisa mengembalikan hatiku.... bahkan buat suamiku. aku udah mencoba semua cara. bahkan yang parah aku selingkuh. " kali ini ada air mata menyertainya.
bagas sedikit terhenyak mendengarnya, namun dia sembunyikan dalam diam dan dalam-dalam....
" Apa yang terjadi?" Bagas dengan tenang menanya kembali
"Aku capek Gas...., aku ini bersuami tapi aku melakukan semua sendiri. "
" Suami kemana?"
" Gak kemana-mana. di rumah."
"Kerja?"
"Iya, kerja."
" terus permasalahannya?"
" Aku gak pernah tau kemana gaji suami aku."
Bagas, menelan ludah. kali ini jakunnya ikut bergerak.